3 Saham Big Bank Tumbang, Siapa yang Sudah Diskon Besar?

3 saham big bank BUMN mengalami penurunan harga, terutama BMRI yang cukup signifikan. Sementara itu, BBCA jadi saham big bank yag naik sendirian. Lalu, apa saham big bank yang sudah diskon besar?

saham big bank

Mikirduit – Keempat saham Big bank, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI sudah merilis laporan keuangan kuartal III/2024. Dari segi pergerakan harga saham, keempat saham big bank cukup mixed. Dari hasil tersebut, kira-kira mana saham big bank yang menarik dibeli? lalu, bagaimana prospek ke depannya?

Saat suku bunga tinggi menjadi momentum yang kurang begitu bagus bagi bisnis bank. Soalnya, dari segi cost of fund atau biaya dana untuk bayar bunga deposito meningkat, sedangkan dari sisi risiko kredit bermasalah juga meningkat selaras dengan perlambatan ekonomi. Sehingga, bank harus merasakan perlambatan pendapatan bunga bersih, serta kenaikan anggaran pencadangan untuk antisipasi rasio kredit bermasalah. 

Adapun, saat periode transisi dari suku bunga tinggi ke rendah bisa jadi momen pemulihan bank. Nantinya, saham big bank biasanya direspons lebih positif saat kinerja mulai pulih, sedangkan saham middle bank akan dipantau setahun setelah pemulihan kinerjanya. 

Lalu, bagaimana dengan kondisi fundamental big bank saat ini? kenapa BMRI dan BBRI tertekan, sedangkan BBCA terus melaju? Berikut perbandingan kinerja keempat saham big bank di kuartal III/2024.

Kami membandingkan beberapa indikator sederhana seperti: 

  • Kinerja pendapatan bungan bersih
  • Kinerja laba bersih
  • Rasio non-performing loan atau kredit bermasalah
  • Net interest margin
  • Cost to income ratio

Saham BBNI

BBNI menjadi emiten big bank yang mencatatkan kinerja pendapatan bunga bersih yang terburuk setelah mencatatkan penurunan sebesar 5,2 persen menjadi Rp30,65 triliun. 

Tekanan pendapatan bunga bersih BBNI disebabkan oleh penurunan dana murah dari giro yang turun 12,46 persen menjadi Rp302 triliun. Di sisi lain, deposito hanya turun 3,15 persen menjadi Rp228 triliun. Sehingga hitungan biaya dana menjadi meningkat. 

Hal itu juga yang membuat BBNI menjadi saham big bank dengan penurunan NIM terbesar ketiga, yakni sebesar 49 bps menjadi 4,15 persen. 

Meski begitu, dari segi laba bersih, BBNI bukan yang terburuk. BBNI masih mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 3,52 persen menjadi Rp16,3 triliun. Pencapaian itu membuat peforma BBNI masih di atas BBRI yang menjadi saham big bank dengan pertumbuhan laba bersih terendah. 

Laba bersih BBNI bisa lebih oke dari BBRI meski pendapatan bunga bersih turun karena didorong penurunan pencadangan sebesar 23,18 persen menjadi Rp5,16 triliun. BBNI juga menjadi satu-satunya saham big bank yang masih berani menurunkan pencadangan saat bank lain malah menaikkan. 

Keberanian BBNI ini juga selaras dengan kinerja non-peforming loan (NPL) perseroan yang terhitung menjadi terbaik kedua setelah BMRI. NPL Gross BBNI per kuartal III/2024 sebesar 1,97 persen, sedangkan NPL net sebesar 0,63 persen. 

Salah satu catatan terbesar BBNI juga ada di cost to income rasio (CIR). BBNI menjadi saham big bank dengan rasio CIR terbesar, yakni 43,83 persen. Rasio CIR menggambarkan seberapa efisien operasional bank dalam meraup laba bersih. Semakin besar angkanya, artinya semakin kurang efisien. 

Rata-rata saham big bank lainnya ada di bawah 40 persen. 

Saham BBRI

Tahun 2024 bisa dibilang bukan menjadi tahun BBRI. Emiten big bank tersebut mengalami tekanan kinerja setelah rasio kredit bermasalah sektor mikro dan kecil meningkat signifikan. Terutama setelah restrukturisasi kredit UMKM pasca covid-19 dicabut pada Maret 2024. 

Alhasil, BBRI harus terus menaikkan pencadangan untuk antisipasi risiko NPL tersebut.

Meski begitu, BBRI masih menjadi emiten big bank dengan pendapatan bunga bersih terbesar kedua dari 4 big bank. BBRI mencatatkan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 4,6 persen menjadi Rp107,75 triliun. 

Salah satu pendorong pendapatan bunga bersih BBRI adalah pertumbuhan kredit yang cukup solid. BBRI mencatatkan kenaikan 7 persen dibandingkan dengan akhir 2023. 

Namun, BBRI malah menjadi emiten big bank dengan pertumbuhan laba bersih paling rendah sebesar 2,44 persen menjadi Rp45,06 triliun. Hal itu disebabkan BBRI menaikkan pencadangan 39,67 persen menjadi Rp32,45 triliun. Sehingga meski pendapatan bunga bertumbuh, tapi laba bersih jadi tergerus kenaikan pencadangan tersebut. 

Kenaikan pencadangan juga berhubungan erat dengan status BBRI dengan tingkat NPL terbesar dari gross dan net. NPL gross BBRI sekitar 3,04 persen, sedangkan NPL netnya sekitar 0,84 persen. 

Sayangnya, meski pendapatan bunga bersih BBRI meningkat, tapi BBRI malah menjadi emiten big bank dengan penurunan NIM terbesar. BBRI mencatatkan penurunan NIM sebesar 52 bps menjadi 6,45 persen. 

Sementara itu, dari sisi CIR, BBRI menjadi yang terbaik ketiga sebesar 37,58 persen.

Saham BMRI

BMRI sebagai emiten big bank yang memiliki segmen pasar head to head dengan BBCA, begitu juga dengan skala bisnisnya, menasbihkan sebagai bank BUMN di kelas big bank yang mencatatkan kinerja terbaik. Meski, posisinya masih kalah oleh BBCA. 

BMRI mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 3,34 persen menjadi Rp75,9 triliun. Menariknya, posisi pertumbuhan BMRI di pos ini masih kalah oleh BBRI. BMRI menjadi emiten big bank dengan kenaikan pendapatan bunga bersih terbesar. BMRI hanya unggul dari BBNI yang mencatatkan penurunan pendapatan bunga bersih. 

Meski, BMRI tidak mencatatkan pendapatan bunga bersih yang signifikan, tapi BMRI menjadi emiten big bank dengan kenaikan laba bersih terbesar kedua setelah BBCA. BMRI mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 7,56 persen menjadi Rp42 triliun. 

Overall, salah satu keunggulan BMRI adalah dari segi NPL atau rasio kredit bermasalah yang sangat rendah. NPL gross BMRI sebesar 0,97 persen dan NPL net sebesar 0,33 persen. Hal itu membuat BMRI menjadi emiten big bank dengan posisi NPL paling rendah.

Sementara itu, dari tingkat NIM dan CIR BMRI menjadi yang terbaik dibandingkan dengan big bank BUMN, meski masih di bawah BBCA. BMRI hanya mencatatkan penurunan NIM sebesar 44 bps menjadi 4,91 persen. Lalu, CIR BMRI sebesar 32 persen menjadi yang terendah kedua setelah BBCA.

Lebih Untung Trading atau Investasi Saham? Cari Tahu Jawabannya di Sini
Ada yang bilang trading lebih cuan, tapi ada juga yang bilang lebih baik investasi. Jadi, mana yang terbaik dalam saham? trading atau investasi?

Saham BBCA

Jika dibuat perbandingan ini, maka kita akan paham kenapa harga saham BBCA susah banget untuk bisa murah. Toh, meski skala aset BBCA masih kalah dari BMRI dan BBRI, tapi emiten bank swasta terbesar di Indonesia ini mampu menjaga kinerja keuangannya tetap positif secara konsisten. 

Bayangkan, dari 5 indikator yang kami gunakan, BBCA mencatatkan posisi terbaik dari 4 indikator. Tercatat, satu hal yang kurang bagus bagi BBCA adalah posisi NPL menjadi yang tertinggi kedua setelah BBRI. 

BBCA mencatatkan NPL gross sebesar 2,11 persen, sedangkan NPL net sebesar 0,72 persen. 

Menariknya, karena posisi NPL itu, BBCA terpaksa menaikkan pencadangan hingga 60 persen menjadi Rp2,36 triliun. Namun, kenaikan pencadangan itu masih tetap membuat laba bersih BBCA tumbuh 12 persen atau yang tertinggi dibandingkan dengan big bank lainnya. 

Kenaikan laba bersih BBCA itu jelas didorong pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang naik 9,51 persen menjadi Rp61 triliun. Posisi ini juga menjadi yang tertinggi dibandingkan 3 saham big bank lainnya. 

Kenaikan pendapatan bunga bersih BBCA bukan semata-mata karena kenaikan kredit, tapi juga cost of fund yang rendah. Hal itu membuat NIM BBCA malah naik 26 bps menjadi 5,78 persen. Tingkat NIM BBCA itu menjadi yang tertinggi di segmennya jika dibandingkan dengan BBNI dan BMRI. Toh, ketiga saham big bank lainnya juga mencatatkan penurunan tingkat NIM. 

Menariknya lagi dari segi CIR, BBCA konsisten menasbihkan diri sebagai emiten bank yang paling efisien dalam mendapatkan laba. Tingkat CIR BBCA hanya 30,36 persen atau yang terendah dibandingkan ketiga big bank lainnya.

Kesimpulan

Jika dibandingkan secara valuasi, ketiga saham big bank BUMN posisinya masih cukup murah. Hanya BBCA yang posisinya agak mahal. 

Dengan perhitungan PBV justified dan asumsi kinerja 2024 dengan Twelve trailing month, saham BBRI menjadi yang termurah dengan asumsi wajar di Rp5.254 per saham. Artinya, posisi harga wajar BBRI masih lebih tinggi 11,09 persen dari harga pasar per 1 November 2024. 

Lalu, yang termurah kedua adalah BMRI dengan asumsi harga wajar di Rp6.971 per saham. Asumsi harga wajar ini lebih tinggi 5,62 persen dari harga pasar. Ketiga, BBNI menjadi yang termurah dengan asumsi harga wajar di Rp5.354 per saham. 

Untuk BBCA, posisinya cukup premium karena harga pasar saat ini 11,51 persen lebih tinggi dari asumsi harga wajarnya di Rp9.137 per saham.

Dari ulasan ini, mana yang jadi pilihan paling menarik untukmu?

Yuk Join Grup Mikirdividen untuk Dapat Pilihan Saham Investasi Jangka Panjang Serta Diskusi dan Update Saham Eksklusif Bersama Ratusan Investor Saham Lainnya

Jika kamu ingin tahu atau mau langsung gabung ke Mikirdividen, kamu bisa klik di sini . Ada promo spesial diskon langsung Rp200.000 untuk langganan setahun! CUMA SAMPAI 31 Desember 2024 dan Kuota terbatas!

Langganan Sekarang dan dapatkan Fix Rate perpanjangan seperti harga pembelian pertama selama dua tahun ke depan.

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini