5 Saham Dividen Syariah yang Cocok Untuk Jangka Panjang

Berikut ini 5 saham syariah yang rutin bagi dividen dengan kinerja oke yang bisa jadi pilihan saham investasi jangka panjangmu.

5 Saham Dividen Syariah yang Cocok Untuk Jangka Panjang

Mikirduit – Investasi saham syariah memiliki tantangan tersendiri. Pasalnya, 4 saham big bank dan TLKM bukan termasuk sham syariah. Kalau begitu, apa saham syariah yang oke untuk investasi jangka panjang?

Untuk itu, kami melakukan screening untuk 5 saham syariah yang rutin membagikan dividen dan menarik untuk investasi jangka panjang. Beberapa indikator yang digunakan antara lain, saham-saham yang tergabung di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), memiliki rata-rata tingkat dividend yield lebih dari 7 persen dalam 5 tahun terakhir, posisi laba bersih positif, dan memiliki tingkat gross profit margin di atas 20 persen. Berikut 5 saham dividen syariah yang menarik dan bisa cocok untuk jangka panjang.

5. Saham PBSA

PBSA adalah emiten konstruksi untuk pabrik dan industri, terutama di bidang pengolahan kelapa sawit. Beberapa klien dari PBSA seperti, PT Unilever Oleochemical hingga Grup Sinarmas. Bahkan, secara khusus, perseroan juga ekspansi ke Malaysia untuk menangkap pasar di sana. Meski, sejauh ini, perseroan belum mencatatkan pendapatan atas operasional di Malaysia. 

Jika merujuk ke historisnya, ekspansi PBSA ke Malaysia sudah ada sejak 2018. Namun, perseroan menangguhkan proyek di Malaysia pada 2019 karena masalah perizinan. Sejauh ini belum ada kabar lagi terkait ekspansi perseroan di Malaysia. 

Dari sisi tren kinerja, berhubung bisnisnya adalah konstruksi, kinerja pendapatan dan laba bersih PBSA juga cukup fluktuatif. Per kuartal III/2023, PBSA mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 40,58 persen dan laba bersih turun 32 persen. 

Meski, darisisi gross dan net profit margin bisa tetap dijaga naik. Gross profit naik menjadi 27 persen dibandingkan dengan 22 persen pada periode sama tahun lalu, sedangkan net profit margin dijaga di 18 persen dibandingkan dengan 16 persen pada tahun sebelumnya. 

Dengan model bisnis konstruksinya itu, PBSA bisa lebih berkelanjutan karena perseroan tidak memiliki utang berbunga sehingga termasuk ke saham syariah. 

Dalam 5 tahun terakhir, PBSA memiliki tingkat rata-rata dividen yield sekitar 7,27 persen. 

Untuk posisi harga PBSA saat ini bisa dibilang sudah cukup murah dengan price to earning ratio (PE) di angka 8,7 kali. Secara historis 3 tahunnya, posisi itu sudah di bawah rata-rata yang sebesar 15,02 kali. Secara sektoral konstruksi swasta, PE PBSA juga sudah cukup murah di bawah rata-rata PE sektoral yang berada di angka 10,34 kali. Angka sektoral itu menghitung PE dari beberapa emiten konstruksi swasta seperti, ACST, SMKM, NRCA, dan TOTL. 

4. Saham SPTO

SPTO adalah anak usaha TOTO dengan model bisnis distributor produk TOTO. Jadi, jika TOTO produksi, sedangkan SPTO yang menjualnya. 

SPTO ini salah satu emiten yang rutin bagi dividen sejak IPO pada 2018. Perseroan mencatatkan rata-rata tingkat dividend yield sebesar 7,72 persen dalam 5 tahun terakhir. 

Jika dilihat dari struktur pendapatannya, kontributor terbesar berasal dari produk sanitary yang berupa toilet, wastafel, dan produk sejenis lainnya. Kontribusi ke pendapatannya mencapai 60 persen. Sisanya, pendapatan SPTO didukung dari penjualan Fitting seperti, shower, bathtub, dan lainnya. Serta peralatan dapur hingga pendapatan sewa perkantoran. 

Jika melihat kontribusi margin terbesar SPTO dibandingkan dengan jumlah pendapatan, produk Fitting menjadi andalan. Tingkat gross profit margin produk Fitting tembus 29,67 persen dengan status sebagai sumber pendapatan kedua terbesar. Sedangkan, produk sanitary memiliki tingkat margin keuntungan sebesar 20,96 persen. 

SPTO juga menjadi salah satu emiten dengan utang yang cukup rendah. Per kuartal III/2023, tingkat debt to equity ratio-nya sekitar 0,15 kali. 

Secara valuasi, saham SPTO ini sudah cukup murah. Price to earnings (PE)-nya sudah di 6,55 kali. Posisi itu sudah di bawah standard deviasi -1 yang berada di 6,88 kali. 

3. Saham POWR

POWR memiliki bisnis penyediaan listrik ke kawasan industri di beberapa area seperti, Jababeka, MM-2100, dan Babelan. Bahkan, POWR juga sempat memiliki kontrak penyediaan supply listrik dengan PLN. 

POWR menjadi salah satu emiten yang rutin bagi dividen dengan rata-rata tingkat dividend yield dalam 5 tahun terakhir sekitar 7,93 persen. 

Sampai 2023, kinerja POWR sedikit tertekan. Perseroan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 0,79 persen menjadi 546,07 juta dolar AS. Meski begitu, POWR masih mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 6,12 persen menjadi 76,97 juta dolar AS. 

Adapun, laba bersih POWR bisa tetap tumbuh positif karena didorong kenaikan pendapatan bunga sebesar 137 persen menjadi 19,08 juta dolar AS. 

Meski begitu, jika dilihat dari PE 5 tahun terakhir, posisi POWR tidak terlalu murah. POWR memiliki PE sebesar 9,34 kali dengan rata-rata 5 tahun terakhir ada di 9,16 kali. Sehingga, posisi saat ini bisa dibilang lebih tinggi dari rata-rata 5 tahunnya. 

3 Saham Dividen Rutin yang Stabil dan Cashflow Tebal
Kalau kamu trader pasti suka saham yang berflluktuasi, tapi kalau kamu investor pasti lebih suka saham yang kinerja bisnisnya stabil dan rutin bagi dividen. Nah, ini 3 saham stabil tersebut

2. Saham IPCC

IPCC adalah anak usaha dari Pelindo, yang merupakan BUMN di bidang pelabuhan. IPCC menjadi emiten yang memiliki jasa pengelolaan bongkar muat, terutama untuk ekspor-impor kendaraan. 

Secara model bisnis, IPCC hampir mirip dengan POWR, yakni menyediakan jasa. Hanya saja, jasa yang ditawarkan berbeda, jika POWR menawarkan jasa pengaliran listrik ke kawasan industri, sedangkan IPCC memproses bongkar muat pengiriman barang dengan kapal. 

IPCC juga menjadi saham yang rutin bagi dividen sejak IPO pada 2018. Rata-rata tingkat dividen yield IPCC dalam 5 tahun terakhir sekitar 8,35 persen. 

Untuk kinerja keuangan IPCC hingga kuartal III/2023, perseroan masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7,83 persen menjadi Rp548,16 miliar. Namun, laba bersihnya naik 30,35 persen menjadi Rp141,94 miliar. 

Apa yang mendorong laba bersihnya meroket di kuartal III/2023? seperti halnya POWR, laba bersih IPCC di 2023 naik juga karena dorongan kenaikan pendapatan keuangan sebesar 73 persen menjadi Rp28,69 miliar. 

Pendapatan keuangan itu berasal dari bunga deposito berjangka yang naik menjadi Rp27 miliar dibandingkan dengan Rp14 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. 

Untuk valuasi sendiri, IPCC memiliki price to book value di 1,05 kali. IPCC bisa dibilang cukup konsisten berada di atas PBV 1 kali yang merupakan rata-rata 3 tahun terakhirnya. Dalam setahun terakhir, IPCC memang konsisten berada pada PBV di atas 1 kali. 

Hal itu terjadi sejak pemulihan kinerja setelah perseroan sempat merugi pada saat pandemi Covid-19. 

Kami pun menggunakan PBV karena ada catatan perseroan sempat merugi saat pandemi Covid-19 di 2020. 

1. Saham UNTR

UNTR adalah anak usaha ASII yang fokus di sektor alat berat yang terintegrasi dengan bisnis kontraktor pertambangan, serta tambang batu bara dan emas. Kini, UNTR masih terus melanjutkan tren ekspansi dengan mengakuisisi perusahaan energi baru terbarukan seperti ARKO, bagian dari Supreme Energy di Sumatra Selatan untuk bisnis panas bumi, hingga tambang nikel. 

Teranyar, UNTR dikabarkan menjadi salah satu investor yang berminat masuk ke saham NCKL via right issue yang akan digelar oleh emiten tersebut. UNTR disebut akan bersaing dengan Glencore Plc., dan Itochu Corporation. 

Sayangnya, dari sisi kinerja keuangan UNTR tengah mencatatkan penurunan tipis. Laba bersih UNTR mencatatkan penurunan sebesar 1,87 persen. Tren penurunan ini memang lebih rendah dibandingkan dengan emiten batu bara lainnya, tapi diperkirakan tren penrurunan masih berlanjut hingga 2024. Konsensus analis memperkirkaan laba bersih UNTR berpotensi masih lanjut turun sebesar 21,23 persen menjadi Rp4,35 triliun. Lalu, tren penurunan mulai melandai di 2025 hanya sebesar 5,95 persen. 

Meski begitu, jika hasil ekspansi tambang emas di mana sepanjang 2023 memang lagi ada maintenance, serta tambang nikel yang baru diakuisisi, yakni Stargate sudah mulai menghasilkan di 2024. Ditambah, tren harga nikel terus naik, bisa saja kinerja UNTR berbalik naik. 

UNTR sendiri menjadi salah satu saham dividen dengan tingkat dividen yield dalam 5 tahun terakhir sekitar 8,87 persen. 

Secara valuasi, UNTR memiliki tingkat price to earning ratio sebesar 4,46 kali. Posisi ini sudah sangat rendah secara historis, di mana sudah di bawah PE standard deviasi -1 sebesar 5,08 kali.

Adu UNTR Vs HEXA, Mana Emiten Dividen Alat Berat Terbaik?
Saham alat berat diperkirakan menghadapi tantangan pada 2024, tapi apakah ini akan jadi momen bagus beli kedua saham yang rutin bagi dividen ini? simak selengkapnya di sini

Kesimpulan

Jika melihat karakter saham syariah, pilihan yang stabilnya bukan seperti big bank BBCA, BBRI, BMRI, melainkan karakter yang rendah utang  seperti POWR, IPCC, dan SPTO. Adapun, jika ingin mencari saham yang skalanya besar bisa ambil UNTR meski harus punya di harga bawah sektiar Rp20.000 sampai Rp22.000 dengan alasan karakter saham ini cyclcal. Lalu, untuk PBSA sendiri sebenarnya menarik sebagai saham dividen, hanya saja bisnisnya tergantung dengan permintaan proyek yang bisa naik dan turun.

Musim Bagi Dividen Nih, Mau Tau Saham Dividen yang Oke dan Bisa Diskusi serta Tau Strategi Investasi yang Tepat?

Yuk join Mikirdividen, masih ada promo Berkah Ramadan hingga Rp200.000. Berikut ini benefit yang akan kamu dapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023-2024 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan (HINGGA Maret 2025)
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)
  • Publikasi eksklusif bulanan untuk update saham mikirdividen dan kondisi market

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini