Harga Batu bara Mendekati Level 100 Dolar AS, Gimana Nasib Sahamnya?
Harga acuan batu bara makin anjlok dan sudah melewati level biaya produksi per ton rata-rata industri. Hal ini membuat margin semakin terkikis, akankah ini menjadi sinyal harga sudah di bottom? gimana nasib emiten energi fosil tahun ini?

Mikirduit - Harga batu bara masih terus terjerembab di zona merah dan kini posisinya sudah melewati biaya produksi per ton untuk rata-rata industri. Apakah ini jadi sinyal harga acuan sudah dekat bottom?
Merujuk data barchart, harga acuan batu bara ICE Newcastle kontrak Maret 2025 pada penutupan perdagangan Jumat (21/2/2025) anjlok 3,25 persen secara harian ke posisi US$ 102,75 per ton.
Sudah tiga minggu harga batu bara betah di zona merah dan menandai posisi paling rendah dalam empat tahun terakhir.
Penurunan harga batu bara disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari ekspektasi permintaan yang melambat, terutama dari China setelah mencapai rekor tertinggi pada 2023-2024.
Kemudian, impor batu bara India diketahui turun karena produksi batubara dalam negeri dan peningkatan permintaan energi bersih.
Kedua, ada kekhawatiran kelebihan pasokan karena produsen dari Indonesia menargetkan peningkatan produksi berlanjut pada tahun ini. Padahal, pada tahun lalu sudah cetak rekor.
Posisi harga saat ini diketahui juga sudah menembus ke bawah rata-rata biaya produksi per ton (cash cost) dari persentil 90 produsen batu bara global, menurut data WoodMackenzie di US$ 107 per ton.
Kondisi seperti ini akan membuat margin emiten batu bara terkikis dan tidak menutup kemungkinan paling buruk bisa menelan kerugian. Khususnya, untuk produsen batu bara di Rusia yang menghadapi lonjakan cash cost karena kelangkaan alat-alat penting akibat tensi geopolitik.
Sementara itu untuk produsen batu bara di China menghadapi biaya produksi tinggi karena sekitar 90% tambang di sana beroperasi di bawah tanah.
Margin Terkikis, Ini Harapan Emiten Batu Bara Sekarang!
Di tengah potensi margin yang terkikis, emiten batu bara Tanah Air kini mengharapkan dua hal untuk bisa menahan beban dari penurunan harga, yakni penurunan tarif royalti batu bara dan penerapan mitra instansi pengelola (MIP).
Pertama, dari kebijakan royalti batu bara ini sangat sensitif dengan emiten batu bara. Pasalnya, biaya royalti batu bara itu bisa setara 10-20 persen dari total pendapatan.

Artinya, jika ada relaksasi royalti lebih murah bisa membantu meningkatkan margin keuntungan emiten batu bara.
Sebagai catatan, royalti batu bara merupakan pembayaran kepada pemerintah sebagai kompensasi ketika pengusaha menambang sumber daya mineral.
Tarif royalti batu bara di Indonesia berjenjang dan tergantung pada harga batu bara acuan (HBA). Berikut pembagian tarif royalti batu bara berdasarkan HBA:
Kedua, untuk pembentukan mitra instansi pengelola (MIP), lembaga tugasnya memungut dan menyalurkan iuran batu bara.
Rencana iuran batu bara ini sebenarnya bukan hal baru karena awalnya akan berlaku pada 2024. Namun, rencana itu diundur dan diperkirakan bakal mulai dilaksanakan tahun ini.
Iuran MIP ini digunakan untuk mengelola dana kompensasi batu bara (DKB) kepada penambang batu bara yang menjual batu bara ke domestik dengan harga khusus (harga domestik market obligation fixed rate di 70 dolar AS per ton ke PLN dan 90 dolar AS per ton ke pupuk dan semen).
Sehingga penambang yang menjual ke domestik tidak perlu khawatir terkait selisih harga jual DMO dengan ekspor.
Nantinya, dana MIP ini akan dikelola oleh Himbara (Himpunan Bank Negara) seperti, BBRI, BMRI, dan BBNI. Sayangnya, petunjuk teknis detail iuran MIP ini belum diumumkan, tetapi beberapa menteri disebut sudah menyetujui rencana tersebut dan siap dijalankan.
Pilih Emiten yang Mana?
Dari potensi penurunan royalti, kami melihat beberapa pemegang IUPK yang akan diuntungkan seperti AADI, BUMI, dan INDY.
Kebijakan itu juga akan menguntungkan penambang batu bara metalurgi karena dalam draft awal 2024 produsen cooking coal ini masih dikecualikan. Sejauh ini, dua emiten yang serius menggarap cooking coal ada ADRO via ADMR dan UNTR.
Sementara untuk yang diuntungkan dari penerima manfaat MIP ada PTBA, karena sebagai penambang batu bara pelat merah, emiten ini punya penjualan domestik yang paling banyak.
Untuk AADI kami melihat secara lebih spesifik jika pajak royalti turun menjadi 12%, ada potensi kenaikan pendapatan sampai 61% pada 2025.
Tambahan sentimen postiif untuk AADI juga datang dari rumor di pasar yang santer terdengar soal potensi masuk jadi anggota MSCI.
Posisi kas yang cukup besar juga masih mendukung untuk pembagian dividen lagi. Manajemen masih menjanjikan 45% laba dialokasikan sebagai dividen untuk tahun buku 2025.
Merurut data prospektus, sampai paruh pertama 2024 AADI masih memiliki kas Rp1,08 triliun dan sisa dana IPO per Januari masih ada Rp2,52 triliun.
Meski begitu, sejauh ini sentimen utama yang menggerakkan pergerakan harga saham kembali lagi pada volatilitas harga batu bara acuan.
Jadi, selain dari potensi penerima keuntungan penurunan royalti dan implementasi MIP, patut dipertimbangkan beberapa hal ini sebelum memilih emiten batu bara :
- Masih memiliki operational cash positif dan free cash flow banyak
Jika indikator ini terpenuhi, produsen batu bara akan memiliki kemampuan yang lancar untuk operasional bisnisnya dan meningkatkan peluang membagikan dividen atraktif dan ekspansi bisnis ke depan.
- Punya cash cost yang rendah
Secara global, industri batu bara memiliki cash cost rata-rata sudah di atas US$ 100 per ton.
Namun, sebagian ada yang bisa menekan cash cost tetap murah, bergantung pada seberapa dalam tambang yang dipunya, kualitas dari teknologi, peralatan tambang, cadangan batubara, sampai infrastruktur, dan aksesbilitas-nya.
Konsultasikan dan Diskusi Kondisi Portomu dengan Join Mikirdividen
Jika kamu ingin tahu atau mau langsung gabung ke Mikirdividen, kamu bisa klik di sini .
Untuk mengetahui tentang saham pertama, kamu bisa klik di sini.
Jika ingin langsung transaksi bisa klik di sini
Langganan Sekarang dan dapatkan Fix Rate perpanjangan seperti harga pembelian pertama selama dua tahun ke depan.
Beberapa benefit baru:
- IPO Digest Premium
- Saham Value dan Growth Bulanan yang Menarik
- Update porto Founder Mikirduit per 3 bulan
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini