Penyebab IHSG Sempat Turun 7 Persen, Apa yang Bisa Investor Ritel Lakukan?
Pasar Saham Indonesia sempat jeblok cukup signifikan hingga 7 persen dan mengalami trading halt. Kira-kira, apa yang harus dilakukan dan bagaimana peluang rebound-nya.

Mikirduit – Tekanan jual pasar saham Indonesia meningkat drastis hingga mengalami trading halt, penghentian sementara transaksi di bursa saham selama 30 menit setelah penurunan indeks harga saham gabungan sebesar 5 persen. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pasar saham Indonesia? apakah akan ada trading halt lanjutan atau bisa bangkit?
IHSG sempat turun 7 persen pada perdagangan sesi I 18 Maret 2025. Crash-nya pasar saham Indonesia terjadi sehari sebelum pengumuman kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan 19 Maret 2025.
Namun, secara keseluruhan belum diketahui penyebab sentimen negatif yang membuat 18 Maret 2025 menjadi momen untuk melakukan sell-off atau aksi jual dari investor besar.
Dalam berita Bloomberg pada 18 Maret 2025, Indonesian Stock Plunge Most Since 2011 as Growth Worries Mount disebutkan aksi sell-off pada 18 Maret 2025 di pasar saham Indonesia disebabkan oleh aksi jual karena forced-sell oleh trader yang bertransaksi dengan margin.
Artinya, ada trader margin yang kena forced sell sehingga aset-asetnya di saham lain juga terpaksa dilikuidasi. Hal itu membuat tekanan jual yang cukup tinggi dan menekan pasar saham Indonesia, ketika pasar saham regional tidak ada yang berfluktuasi tinggi.
Mohit Mirpuri, Manajer Dana di SGMC Capital Pte. mengatakan saat ada tekanan sell-off karena forced sell dari transaksi margin tersebut, tidak ada sentimen pendukung dan inflow yang kuat untuk menahan penurunan lebih dalam. Sehingga pasar saham cenderung mengalami koreksi signifikan hingga mengalami trading halt.
Dalam beberapa hari terakhir, salah satu saham yang menjadi sorotan adalah DCII. Saham milik Toto Sugiri dan juga Anthoni Salim itu sempat naik hingga 401 persen dalam sebulan. Bahkan, saham tersebut sempat disuspensi dan masuk full call auction sejak 5 Maret 2025. Setelah full call auction dilepas pada 14 Maret 2025, harga saham DCII mengalami auto rejection bawah selama 3 hari berturut-turut masing-masing 20 persen per hari. (total 60 persen dalam 3 hari perdagangan)
Selain itu, rata-rata saham konglo, istilah saham yang naik signifikan dan dimiliki oleh konglomerat besar, seperti PTRO, PANI, CBDK, BREN juga mengalami penurunan signifikan.
Misalnya, 3 saham Prajogo Pangestu:
- PTRO mengalami penurunan sebesar 47 persen dalam 2 bulan terakhir.
- BREN turun sekitar 51 persen dalam 3 bulan terakhir.
- CUAN turun 57 persen dalam 3 bulan terakhir
Lalu, dua saham miliki konsorsium Aguan seperti:
- PANI turun 49 persen dalam 3 bulan terakhir
- CBDK turun 52 persen dari level tertinggi pada 20 Januari 2025
Saham Grup Hapsoro juga cukup berdarah-darah seperti:
- RAJA turun 52 persen dalam 3 bulan terakhir
- RATU turun 49 persen dalam 2 bulan terakhir.
Risiko Ekonomi Makro
Sementara itu, salah satu risiko terbesar yang menjadi perhatian adalah potensi perlambatan ekonomi Indonesia. Apalagi, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi sebesar 4,9 persen. Angka itu lebih rendah dari perkiraan pada akhir 2024 yang masih optimistis di 5,2 persen.
Namun, revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi lebih lambat itu bukan hanya Indonesia. OECD juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada 2025 dan 3 persen pada 2026. Padahal, sebelumnya OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di angka masing-masing 3,3 persen pada 2025 dan 2026.
Faktor ekonomi makro tersebut sering disebut jadi alasan net sell asing di Indonesia cukup masif. Sepanjang 2025, Bloomberg mencatat ada aksi outflow sekitar 1,65 miliar dolar AS.
Apalagi, Morgan Stanley juga memutuskan untuk downgrade pasar saham Indonesia menjadi underweight yang membuat bobot di indeks MSCI turun. Hal itu berefek saat rebalancing indeks MSCI pada 28 Februari 2025, ketika pasar saham Indonesia mengalami penurunan signifikan.
Beberapa tantangan ekonomi makro Indonesia adalah terkait risiko defisit APBN yang meningkat selaras dengan komposisi struktur kabinet yang lebih gemuk, serta pengejaran program Makan bergizi gratis yang memakan anggaran yang besar.
Ditambah, Indonesia juga memiliki utang jatuh tempo pada 2025 senilai Rp800 triliun yang terdiri dari pembayaran pokok SBN senilai Rp705 triliun dan pinjaman senilai Rp94 triliun. Angka ini lebih tinggi dari utang jatuh tempo pada 2024 yang mencapai Rp434 triliun.
Dalam kondisi yang menantang itu, Indonesia mencatatkan defisit APBN senilai Rp31,2 triliun dalam 2 bulan pertama di 2025. Apalagi, defisit yang terjadi karena adanya penurunan pendapatan negara sebesar 20,85 persen. Padahal, APBN Indonesia sempat mengalami surplus Rp26,04 triliun pada Februari 2024 dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya.
Untuk mengantisipasi itu, pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Prabowo Subianto juga melakukan efisiensi anggaran. Namun, efisiensi itu dilakukan untuk menambal kebutuhan dana program masa kampanyenya, yakni Program Makan bergizi gratis.

Apakah Pasar Saham Bisa Rebound?
Kami menilai peluang rebound terbuka, tapi dalam jangka pendek hanya terjadi kenaikan sementara. Ada beberapa sentimen yang cukup menantang sepanjang 2025, yakni rilis data pertumbuhan ekonomi Q1/2025 yang jika mengalami perlambatan dari proyeksi bisa menjadi sentimen negatif lanjutan.
Apalagi, April-Mei juga menjadi siklus tingkat pembayaran utang dalam dolar AS di korporasi sehingga demand dolar AS pada periode tersebut cenderung tinggi dan rupiah melemah. Hal itu juga membuat siklus pasar saham Indonesia pada periode tersebut cenderung koreksi.
Potensi rebound paling optimistis bisa terjadi di Juni - Oktober 2025 jika Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, menurunkan suku bunga di Mei 2025 sesuai perkiraan konsensus analis. Dengan penurunan suku bunga The Fed, BI jadi punya ruang penurunan suku bunga lebih lanjut.
Jadi, Apa yang harus Dilakukan Saat Kondisi Market Saat ini?
Ada beberapa poin yang bisa jadi menjadi perhatian saat kondisi market sangat volatil seperti saat ini:
- Mengurangi porsi trading di saham yang tidak atau kurang likuid. Alasannya, saat likuiditas di market terbatas, masuk ke saham yang kurang likuid sangat berisiko meski saham-saham tersebut kerap memberikan persentase kenaikan harga yang fantastis. Namun, jika big fund yang menggerakkan harganya keluar, harganya bisa turun signifikan.
- Ambil posisi pendek untuk saham-saham bobot besar ke IHSG dengan fundamental yang kokoh misalnya, saham big bank. Dalam kondisi pasar saham yang volatil seperti saat ini, kamu bisa masuk ke saham-saham fundamental besar dengan bobot ke IHSG besar seperti big bank, ASII, dan lainnya untuk jangka pendek. Jika ada sinyal bakal koreksi, bisa take profit terlebih dulu. Alasannya, saham-saham dengan bobot besar ke IHSG itu punya likuiditas lebih besar sehingga risikonya bisa lebih terukur ketimbang masuk ke saham yang tidak likuid.
- Momen menambah muatan di saham-saham jangka panjang dan punya dividen. Skema menambah muatan bisa ditumpuk di satu sekuritas atau dipecah ke beberapa sekuritas untuk saham yang sama. Tujuannya jika ada koreksi lagi, saham yang baru dibeli di sekuritas lain dengan posisi lebih bawah bisa take profit. Catatan jika ingin menumpuk di satu sekuritas atau melakukan averaging down harus dilakukan dengan terukur. Jangan averaging down tanpa batas. Atur nafas dengan melakukan averaging down maksimal 3-5 kali dalam posisi beli di bawah harga rata-rata saat ini.
- HOLD untuk saham fundamental oke jangka panjang dengan dividen, serta posisi sudah mengalami floating loss. Ditambah, jika kamu sudah tidak ada cash tambahan untuk melakukan averaging down. Tunggu dividen cair dan nantinya cash dari dividen tersebut dioptimalkan secara bijak sesuai dengan kondisi market ke depannya.
- Take profit saham tradingan jangka pendek. Ingat, saat volatilitas market sangat tinggi saat ini, jangan lupa untuk take profit saham tradingan meski keuntungannya baru 5-10 persen. Tujuannya untuk menjaga cashflow tetap cair meski marketnya berfluktuasi cukup tinggi.
Jadi, bagaimana kondisi portofoliomu setelah penurunan pasar saham tadi?
Konsultasikan dan Diskusi Kondisi Portomu dengan Join Mikirdividen
Jika kamu ingin tahu atau mau langsung gabung ke Mikirdividen, kamu bisa klik di sini .
Untuk mengetahui tentang saham pertama, kamu bisa klik di sini.
Jika ingin langsung transaksi bisa klik di sini
Langganan Sekarang dan dapatkan Fix Rate perpanjangan seperti harga pembelian pertama selama dua tahun ke depan.
Beberapa benefit baru:
- IPO Digest Premium
- Saham Value dan Growth Bulanan yang Menarik
- Update porto Founder Mikirduit per 3 bulan
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini