Saham BRIS Jeblok Karena Bank Syariah Muhammadiyah? Begini Fakta Sebenarnya

Saham BRIS turun 35 persen dalam sebulan terakhir, apakah harganya sudah murah? lalu bagaimana prospek sahamnya? apakah terkena efek negatif dari pendirian bank syariah Muhammadiyah?

saham BRIS

Mikirduit – Saham BRIS mencatatkan penurunan hampir 35 persen dalam sebulan terakhir sejak berada di level tertingginya sekitar Rp3.000-an per saham. Sentimen Muhammadiyah berencana membuat bank syariah sendiri dianggap risiko bagi bisnis BRIS. Lalu, bagaimana prospek BRIS ke depannya? 

Salah satu sentimen terbesar yang muncul ke BRIS adalah rencana Muhammadiyah mendirikan bank syariah sendiri. Dikutip dari Kompas.id, Muhammadiyah disebut sudah memiliki nama untuk bank umum syariahnya nanti, yakni antara Bank Syariah Muhammadiyah atau Bank Syariah Matahari.

Dalam mendirikan bank itu, ada risiko penarikan dana dari BRIS senilai Rp13 triliun yang isunya sempat muncul pada 2024. Menurut Wakil Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhaer Pakkanna dana pihak ketiga di BRIS lebih banyak disalurkan sebagai pembiayaan pihak ketiga. Jadi, dengan hadirnya bank syariah sendiri ini, harapannya Muhammadiyah bisa memanfaatkan dananya untuk pembiayaan ekosistem ekonominya. 

OJK pun memberikan dua opsi kepada Muhammadiyah dalam mendirikan bank baru:

Pertama, melakukan merger atau penggabungan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang dimiliki Muhammadiyah (kabarnya ada 10). Kedua, mentransformasi salah satu BPRS milik Muhammadiyah menjadi bank umum syariah dengan suntikan modal. 

Kabarnya, Muhammadiyah memilih opsi kedua dan berencana menjadikan BPRS Matahari Artadaya untuk menjadi bank umum syariah. Sayangnya, kami tidak menemukan data laporan keuangan publikasi BPRS Matahari Artadaya di website OJK dan bank perkreditan rakyat syariah itu juga tidak memiliki website.

Di sisi lain, korelasi antara adanya bank syariah Muhammadiyah dengan BRIS juga sudah mulai mengecil. Pasalnya, Muhammadiyah sudah memindahkan dananya secara bertahap ke bank syariah lain seperti Bank Mega Syariah, Bank Muamalat, Bank Bukopin Syariah, dan Bank Syariah milik BPD. 

Artinya, sentimen Bank Syariah milik Muhammadiyah ini sudah tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap prospek kinerja BRIS karena dananya sudah dikeluarkan secara bertahap.

Sepanjang 2024, kinerja pertumbuhan dana pihak ketiga BRIS justru mencatatkan kenaikan sebesar 11,46 persen menjadi Rp327 triliun. Dari porsi itu, sebanyak 60,12 persen berupa dana murah (tabungan dan giro). 

Sampai Januari 2025, pertumbuhan dana pihak ketiga BRIS masih naik 11,2 persen menjadi Rp320 triliun. 

Lalu, apakah penurunan ini disebabkan karena ada dana pihak ketiga Muhammadiyah lagi yang keluar dari BRIS? kami ekspektasi kami jika ada dana keluar akan dilakukan benar-benar bertahap bukan rush dalam jumlah besar. 

Dari BRIS akan mencoba pengganti nasabah Muhammadiyah dengan pihak lain. Cara membuat daya tariknya dengan memberikan tingkat bagi hasil yang menarik. 

Jika itu dilakukan efek jangka pendek, BRIS hanya akan mengalami kenaikan cost of fund karena adanya kenaikan bagi hasil. Namun, dari segi likuiditas tidak ada masalah. 

Apakah langsung berpengaruh ke laba bersih BRIS? jawabannya belum tentu juga. Jika BRIS ada ruang menurunkan pencadangan, kenaikan cost of fund itu tidak akan mempengaruhi tingkat laba bersih BRIS. 

Meski jika melihat data per Januari 2025, BRIS mencatatkan kenaikan pencadangan sebesar 18 persen menjadi Rp242 miliar. Meski begitu, laba bersih BRIS masih tumbuh 15 persen menjadi Rp590 miliar pada Januari 2025.

Saham SRTG Turun ke Rp1.600, Sudah Murah atau Bisa Diskon Lebih Besar Lagi?
Saham SRTG sudah turun setelah sempat naik kencang karena aksi spin-off ADRO. Lalu, apakah saham SRTG saat ini sudah murah? simak ulasannya di sini

Risiko Saham BRIS

Kalau bukan karena faktor Muhammadiyah bikin bank syariah, lalu apa yang membuat saham BRIS turun? jawabannya ada aksi taking profit yang dilakukan oleh big fund di BRIS secara teknis tanpa alasan kuat. Bisa jadi, yang melakukan aksi taking profit ini juga pihak asing yang lagi terus mencatatkan net sell asing. 

BRIS mencatatkan net sell asing sejak 24 Februari 2025 hingga 20 Maret 2025. Tercatat, hanya ada satu kali net buy asing tipis terjadi, yakni pada 10 Maret 2025. 

Adapun, hingga akhir 2024, ada 9 pihak asing yang hold saham BRIS di atas 0,1 persen. Ke-9 pihak itu antara lain:

  • Capital Research and Management Company (0,57 persen) 
  • Norges Bank Investment Management (0,39 persen)
  • The Vanguard Group Inc. (0,35 persen)
  • BlackRock Inc. (0,21 persen)
  • Swedbank Robur Fonder AB (0,16 persen)
  • RWC Aset Management LLP (0,15 persen)
  • Dimensional Fund Advisors LP (0,13 persen)
  • William Blair Investment Management LLC (0,12 persen)
  • FMR LLC (0,11 persen)

Dari kesembilan pihak fund manager yang hold BRIS itu, mereka berkontribusi sebesar 2,19 persen di Free Float  BRIS yang cuma sebesar 9,9 persen. Artinya, jika mayoritas asing itu mulai keluar, tekanan harga ke BRIS menjadi cukup tinggi. 

Alasan mereka keluar bisa hanya ingin taking profit melihat risiko ekonomi Indonesia atau memang sudah dinilai terlalu mahal dan saatnya taking profit.

Di luar itu, kami juga menilai ada salah satu risiko untuk BRIS lainnya adalah terkait rencana BBNI dan BBRI melakukan divestasi kepemilikannya. Awalnya, BRIS digadang-gadang tengah mencari investor strategis yang akan mengambil bagian dari BBNI dan BBRI. Namun, 2 tahun isu itu muncul hingga saat ini belum ada realisasinya sama sekali. 

Sampai, BBNI dan BBRI disebut berpotensi melepas saham BRIS yang dimilikinya ke publik secara bertahap dengan porsi tertentu. Hal ini bisa menjadi tekanan untuk saham BRIS karena tingkat free float berpotensi bertambah.

Meski begitu, secara prospek bisnis, BRIS masih punya potensi pertumbuhan yang menarik. Menurut konsensus analis, rata-rata pertumbuhan laba bersih BRIS dari periode 2025-2027 itu sekitar 18 persen per tahun.

Sehingga, kami menilai jika mendapatkan harga yang cukup murah di bawah Rp2.000 per saham, BRIS menjadi saham yang menarik untuk jangka menengah panjang. 

Hanya saja, kekurangan BRIS adalah tingkat dividend payout ratio-nya cenderung rendah. Rata-rata dividend payout rationya sekitar 10-15 persen. Kami ekspektasi payout tertinggi 30 persen. Dengan rentang payout ratio tersebut, tingkat yieldnya berkisar 1-2 persen per tahun. 

Lalu, bagaimana strategi investasi saham di BRIS, apakah valuasinya sekarang sudah menarik?

Konsultasikan dan Diskusi Kondisi Portomu dengan Join Mikirdividen

Jika kamu ingin tahu atau mau langsung gabung ke Mikirdividen, kamu bisa klik di sini .

Untuk mengetahui tentang saham pertama, kamu bisa klik di sini.

Jika ingin langsung transaksi bisa klik di sini

Langganan Sekarang dan dapatkan Fix Rate perpanjangan seperti harga pembelian pertama selama dua tahun ke depan.

Beberapa benefit baru:

  • IPO Digest Premium
  • Saham Value dan Growth Bulanan yang Menarik
  • Update porto Founder Mikirduit per 3 bulan

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini