Saham TOWR Ajukan Rencana Right Issue Lagi, Sinyal Kebangkitan?

Saham TOWR sudah berada di harga yang sangat diskon dengan kinerjanya yang masih mampu tumbuh positif. Apalagi, TOWR menjadi salah satu emiten menara telekomunikasi yang sangat ekspansif. Jadi, bagaimana prospeknya?

Saham TOWR

Mikirduit – Harga saham TOWR sudah turun 54 persen sejak level tertingginya pada pertengahan 2023. Lalu, akhir April 2025, TOWR berencana meminta persetujuan pemegang saham terkait rencana right issue, yang sebelumnya sempat ditunda. Lalu, bagaimana prospek TOWR selanjutnya?

Dalam keterbukaan informasi pada 10 Maret 2025, TOWR mengumumkan rencana untuk right issue dengan menerbitkan sekitar 15 miliar lembar saham baru. Jumlah lembar saham baru itu mencapai 29,97 persen dari jumlah lembar saham beredar di luar saham treasury. Tingkat dilusi dari aksi right issue TOWR ini sektiar 23,06 persen.

Adapun, rencana penggunaan dana akan digunakan untuk modal kerja dan pembayaran pinjaman TOWR dan Protelindo serta entitas yang ada di bawah anak usaha perseroan tersebut.

Keputusan right issue akan diajukan dalam RUPSLB pada 23 April 2025. Nantinya, jika disetujui, Right issue akan dilakukan maksimal 12 bulan setelah mendapatkan persetujuan dari RUPSLB tersebut. 

Sebelumnya, TOWR sempat mengajukan rencana right issue dengan target dana Rp9 triliun pada September 2024. Namun, rencana right issue itu direvisi menjadi target dana sekitar Rp4,5 triliun atau turun 50 persen dari rencana awal. 

Jika dilihat rencana penggunaan dananya, right issue yang diumumkan pada 2025 ini sama seperti akhir 2024, yakni untuk pembayaran pinjaman dan modal kerja TOWR dan Protelindo, serta anak usaha lainnya. 

Perbedaannya adalah skala lembar saham yang akan diterbitkan. Dalam mengejar target dana sekitar Rp4,49 triliun, TOWR hanya menerbitkan sekitar 4,88 miliar lembar saham baru. Artinya, jika sesuai dengan target dana sebelumnya Rp9 triliun, berarti total lembar saham sekitar 9 miliar - 10 miliar lembar. 

Kala itu, TOWR sudah mendapatkan persetujuan right issue dengan harga pelaksanaan Rp900 per saham. Grup Djarum melalui PT Dwimuria Investama akan menjadi pembeli siaga dalam aksi right issue tersebut. Ditambah, harga pelaksanaan right issue itu ada di atas harga pasar, yang saat itu ada di sekitar Rp700 - Rp800 per saham. 

Sayangnya, rencana right issue dibatalkan pada akhir Desember 2024. Saat itu, perseroan menunda aksi right issue dengan alasan tengah mengkaji struktur right issue agar lebih sesuai dengan perkembangan ekonomi dan pasar saat ini.

Risiko dan Peluang Right Issue TOWR

Salah satu risiko terbesar TOWR adalah tingkat rasio utang yang cukup tinggi. TOWR memiliki tingkat utang berbunga hingga September 2024 mencapai Rp51 triliun. Jika dibandingkan dengan ekuitas, rasio debt to equity-nya mencapai 2,8 kali. 

Meski, dari segi interest coverage rasio (ICR) masih cukup aman, yakni sebesar 2,35 kali. Sehingga risiko gagal bayar utang jangka pendek masih bisa teratasi. 

Risiko-nya adalah TOWR harus mengembalikan pokok obligasi yang mencapai Rp3,98 triliun dalam 1 tahun sejak September 2024. Sehingga, TOWR butuh dana sebesar itu yang biasanya dilakukan dari refinancing dengan utang bank atau aksi right issue. 

Jika dilihat, tingkat utang besar dari TOWR ini juga masih bisa ditoleransi mengingat model bisnisnya cenderung terukur karena berasal dari kontrak jangka panjang dengan operator seluler, serta bisnis infrastruktur telekomunikasi lainnya. 

Hal itu membuat arus kas operasional TOWR hingga kuartal III/2024 masih cukup tebal senilai Rp7,86 triliun. Adapun, total kas dan setara kas senilai Rp2,51 triliun. 

Tren arus kas TOWR yang menebal selaras dengan ekspansi perseroan yang cukup gencar dari akuisisi SUPR, IBST, berbagai fiber optik, yang membuat kinerjanya masih bisa bertumbuh positif. 

Apalagi, teranyar, Protelindo, anak usaha TOWR, dikabarkan juga ikut melakukan penawaran atas aset fiber optik ISAT senilai 1 miliar dolar AS. TOWR akan bersaing dengan I Square Capital, Macquarie, MTEL, dan EXCL untuk mendapatkan aset fiber optik bawah laut ISAT tersebut. 

Dengan fakta tingkat utang hingga rencana ekspansi tersebut, kami menilai TOWR ada potensi mengejar target penghimpunan dana minimal seperti target awal, yakni Rp9 triliun. Dengan begitu, potensi harga pelaksanaan bisa di harga Rp600 per saham. (tetap di atas harga market saat ini yang sekitar Rp500-an per saham). 

Harga Rp600 per saham akan cukup murah juga untuk pengendali masuk sebagai pembeli siaga. Apalagi, Dwi Muria sempat menawar tender offer sukarela di harga Rp1.300 per saham pada 2022. Dengan posisi suntikan modal Rp600 per saham, akan membuat posisi harga pengendali menjadi lebih bagus.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan target dana justru dinaikan ke atas Rp10 triliun, menjadi sekitar Rp11 triliun, sebagai tambahan cash melakukan ekspansi yang lagi dikejar perseroan, yakni penambahan jaringan fiber optik. Semakin tinggi target dana yang dikejar, berarti harga pelaksanaan akan menjadi semakin tinggi. 

Sementara itu, risiko terburuknya adalah target dana seperti rencana terakhir sekitar Rp4,5 triliun. Jika hal itu terjadi, berarti harga pelaksanaan right issue akan lebih rendah dari pasar, yakni sekitar Rp300 per saham.

Untuk keputusan resminya, kita perlu menunggu prospektus right issue setelah TOWR kembali mendapatkan persetujuan atas aksi right issue-nya tersebut dalam RUPSLB. 

Di sisi lain, jika mendapatkan dana Rp9 triliun, TOWR bisa melakukan buyback seluruh utang obligasi-nya yang tersisa senilai Rp5,18 triliun yang terdiri Rp3,98 triliun dalam kurang dari 1 tahun dan Rp1,19 triliun dalam periode lebih dari 1 tahun. Dengan begitu, tingkat DER TOWR dengan angka ekuitas per kuartal III/2024 turun menjadi 2,52 kali. 

Dari segi beban bunga pinjaman untuk pembayaran kupon dan pokok obligasi juga hilang sehingga tingkat Interest Coverage Ratio TOWR menjadi lebih baik. 

Sisanya sekitar Rp4 triliun bisa dijadikan tambahan modal untuk ekspansi lanjutan atau cash operasional dalam jangka menengah.

ADRO Akuisisi Kawasan Industri Kaltara, Begini Prospek Sahamnya
ADRO mengumumkan melakukan akuisisi kawasan industri Kaltara. Lalu, dengan aksi korporasi itu, bagaimana prospek saham ADRO ke depannya?

Jadi, Apakah TOWR Bisa Bangkit?

Kami menilai TOWR bisa bangkit karena secara fundamental masih cukup solid, meski tingkat debt to equity ratio (DER)-nya sangat tinggi. Namun, hal itu wajar mengingat model bisnis infrastruktur telekomunikasi ini memang bertipe capital intensive. Belanja modal rutin tahunan bisa di atas triliunan rupiah. Seperti TOWR dalam periode kuartal III/2024 dan 2024 itu masing-masing Rp6,4 triliun dan Rp3,5 triliun. 

Di sisi lain, aksi ekspansi yang dilakukan TOWR sejak 2021 hingga saat ini telah membuat perseroan menjadi pemimpin pasar di segmen gabungan menara telekomunikasi dengan  fiber optik. Sehingga jika ada kebutuhan jaringan 5G, TOWR menjadi emiten menara yang paling siap memberikan layanan fiber to tower untuk memberikan kinerja jaringan yang optimal. 

Aksi TOWR bisa dibilang cukup agresif dibandingkan dua kompetitor besar lainnya, seperti TBIG dan MTEL. Bahkan, di 2024, MTEL pun kesalip oleh TOWR dalam melakukan penawaran akuisisi IBST. 

Artinya, jika hasil ekspansinya membuat pertumbuhan kinerja TOWR bisa lebih positif dibandingkan dengan kompetitor lainnya, hal itu bisa menjadi momen kebangkitan saham menara telekomunikasi milik Grup Djarum tersebut. 

Jadi, bagaimana strategi investasi saham di TOWR yang sudah diskon tapi harganya terus turun hingga belum terlihat bottom-nya?

Mau Tau Saham Murah yang Menarik Saat Market Bearish?

Jika kamu ingin tahu atau mau langsung gabung ke Mikirdividen, kamu bisa klik di sini .

Untuk mengetahui tentang saham pertama, kamu bisa klik di sini.

Jika ingin langsung transaksi bisa klik di sini

Langganan Sekarang dan dapatkan Fix Rate perpanjangan seperti harga pembelian pertama selama dua tahun ke depan.

Beberapa benefit baru:

  • IPO Digest Premium
  • Saham Value dan Growth Bulanan yang Menarik
  • Update porto Founder Mikirduit per 3 bulan

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini