Trump Tebar Tarif, Harga Emas All Time High, Tanda Market Crash?
Harga emas kembali all time high setelah Trump memberikan tarif resiprokal ke beberapa negara termasuk Indonesia. Apakah ini jadi awal ada potensi market crash?

Mikirduit – Harga emas kian melambung ke 3.000 dolar AS per troy ounce. Kenaikan harga emas itu selaras dengan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan pengenaan tarif kepada negara-negara yang lebih banyak ekspor ke AS, ketimbang impor (termasuk Indonesia). Sehingga hal itu membuat defisit perdagangan bagi Amerika. Lalu, apakah kenaikan harga emas yang sangat agresif ini menjadi tanda adanya potensi market crash sebentar lagi?
Ketika harga emas naik cukup tajam, banyak yang mengasumsikan menjadi pertanda adanya market crash. Hal itu disebabkan kenaikan emas terdorong oleh permintaan yang meningkat. Dengan status emas sebagai aset safe haven atau lindung nilai, artinya ada banyak pihak yang ingin mengamankan asetnya dari risiko ekonomi. Sehingga kenaikan harga emas yang anomali sering dikaitkan dengan market crash.
Secara umum, kenaikan harga emas lebih punya korelasi yang positif terhadap risiko ekonomi. Ketika harga emas naik berarti ada potensi risiko ekonomi dari segi fundamental seperti mengalami resesi hingga non-fundamental seperti perang. Namun, risiko ekonomi itu tidak selalu berdampak terhadap kejadian market crash yang hebat.
Dari penelusuran kami, harga emas (dilihat secara bulanan) sejak 1970 - 2025, telah mengalami periode all time high sebanyak 4 kali, yakni pada 1970-1974, 1978-1980, 2006-2011, dan 2020 hingga sekarang.
Keempat periode harga emas all time high itu selalu diiringi dengan risiko ekonomi seperti:
1970-1974: terjadi periode stagflasi yang disebabkan oleh perubahan sistem moneter (dolar AS yang jadi mata uang cadangan dan dijaminkan oleh emas diubah menjadi tidak dijamin emas lagi). Ditambah, ekonomi AS yang memburuk pasca perang karena defisit APBN meningkat drastis, serta adanya perang teluk yang membuat adanya aksi embargo minyak.
Efeknya, pasar saham sempat turun 50 persen dalam 20 bulan. Jika dihitung dari periode kenaikan harga emas pada 1970 -1974, pasar saham (Indeks SP500) mengalami penurunan sebesar 33 persen.
1978-1980: Terjadi periode krisis minyak karena pertumbuhan ekonomi yang naik pesat karena era suku bunga rendah. (masih efek dari perubahan kebijakan dolar AS yang tidak dijamin oleh emas). Sehingga harga komoditas seperti minyak naik signifikan, dan memicu inflasi. Dari sini, suku bunga the Fed mulai dinaikkan pada 1980-an secara agresif sehingga memicu risiko resesi. Dalam periode ini, pasar saham (Indeks SP500) cenderung naik sebesar 65 persen dalam periode kenaikan yang sama seperti harga emas.
2006-2011: terjadi booming properti karena ekspansi lembaga keuangan di AS dalam menyalurkan kredit KPR subprime mortgage, kredit KPR ke debitur berisiko tinggi. Hal itu sempat mendorong pertumbuhan ekonomi AS sangat bagus didorong oleh sektor properti. Namun, hal itu harus dibayar mahal setelah subprime mortgage ini mulai bermasalah karena adanya kenaikan suku bunga The Fed pada periode 2004-2006. Hingga akhirnya krisis keuangan AS terjadi pada 2008. Hal itu membuat indeks SP500 sempat turun 57 persen, meski jika mengikuti kenaikan harga emas pada 2006-2011, indeks SP500 masih naik 19 persen.
Sementara itu, pasar saham Indonesia sempat turun 53 persen pada periode yang sama. Namun, jika dikomparasi dengan periode kenaikan harga emas, IHSG malah naik 209 persen pada medio 2006-2011.
2020 - sekarang: terjadi pandemi Covid-19 pada 2020. Black swan yang tidak disangka-sangka bisa mematikan sementara perekonomian dunia hingga membuat resesi secara global. Namun, tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 tidak hanya berhenti di 2021, melainkan berlanjut ke 2022 dan seterusnya. Pasalnya, ada anomali ekonomi dari yang slowdown tiba-tiba pulih dengan cepat, sehingga harga komoditas naik tajam. Ditambah adanya perang Rusia-Ukraina. Hal itu membuat inflasi naik tajam dan secara global mulai mengetatkan moneter dengan cepat. Efeknya, ekonomi yang baru ngebut mulai melambat hingga saat ini. Dari kejadian ini, tren harga emas all time high sejak akhir 2020 hingga sekarang sudah naik 65 persen, sedangkan pasar saham AS di indeks SP500 masih naik 56 persen. Lalu, pasar saham Indonesia masih naik 16,91 persen. Meski, dalam 12 bulan terakhir mulai mencatatkan penurunan signifikan.
Jadi, Kapan Market Crash Akan Terjadi?
Tidak ada yang bisa memprediksi 100 persen market crash akan terjadi. Hal yang bisa dilakukan hanya berspekulasi dan melakukan action seperti yang dilakukan Michael Burry pada periode krisis subprime mortgage.
Risiko terbesar yang mungkin terjadi saat ini adalah perubahan tatanan perdagangan secara global setelah Donald Trump menerapkan kebijakan tarif perdagangan kepada negara-negara yang mengalami surplus perdagangan dengan AS. Jika hal ini berdampak terhadap ekonomi negara-negara terkait, berarti bisa memperlambat kondisi ekonomi global dalam jangka menengah.
Namun, tarif yang dilayangkan Trump ini bersifat negosiasi, meski langsung diterapkan. Untuk itu, masih ada potensi tarif tidak berlaku jika ada kesepakatan antar dua negara (dari masing-masing yang kena tarif oleh Amerika). Jika keduanya sepakat, risiko ini menjadi lebih rendah.
Di sisi lain, risiko bisa membesar jika yang dilakukan adalah membalas tarif tanpa melakukan negosiasi. Hal itu bisa membuat risiko resesi ekonomi secara global yang terjadi bertahap atau tidak langsung seperti saat pandemi Covid-19.
Sehingga, jika dikalkulasikan efek terbaik jika ada kesepakatan, harusnya di semester II/2025 hingga awal 2026 bisa jadi momentum positif. Namun, jika yang terjadi adalah efek terburuk, pasar saham bisa suram hingga 12 bulan ke depan (sampai semester I/2026). Dalam periode itu, bisa saja ada negara yang mengalami krisis dan merembet ke negara lainnya.

Lebih Baik Pegang Cash, Hold, atau Pindah ke Pasar Saham AS?
Meski sudah terlihat risikonya, tapi hasil akhirnya masih bersifat tidak pasti. Untuk itu, hal yang bisa dilakukan kembali lagi ke plan awal investasi itu untuk periode berapa lama.
- Jika porto investasi sahamnya untuk jangka panjang lebih dari 5 tahun dan memang ambil dividennya hingga floating profit lagi, ya bisa HOLD dulu.
- Jika porto investasi sahamnya untuk jangka menengah, dan posisi lagi floating profit atau floating loss tipis-tipis bisa dijadikan cash
- Untuk tradingan bisa lihat kondisi teknikal masing-masing saham yang dimiliki untuk mencari jalan keluar terbaik, yang penting tetap disiplin dengan trading plan yang sudah dibuat.
Kenapa tidak cash out saja semuanya? kami menilai jika baru cash out setelah risiko muncul sekarang dengan posisi porto tidak semuanya hijau malah membuat risiko baru. Soalnya, market crash-nya juga belum terjadi. Jika kita melakukan cash out dan ternyata negara-negara sepakat untuk mengatur ulang perdagangan dengan AS, berarti bisa jadi sentimen positif untuk market. Dengan posisi yang sudah cash out semua, bisa jadi kita terpaksa membeli harga lebih tinggi.
Kecuali, kamu sudah yakin dan ingin bertaruh jika market crash akan terjadi, berarti kamu juga sudah persiapkan perhitungan terburuk jika pasar saham kembali naik.
Lalu, jika cashout dengan melakukan cut loss lebih dari 10 persen untuk saham investasi jangka panjang, kami menilai risk reward-nya lebih besar risk-nya. Pasalnya, jika cut loss, berarti kita telah merealisasikan kerugian. Jika realisasi kerugiannya di atas 10 persen, berarti kita harus punya keuntungan lebih dari 10 persen agar bisa balik modal dari realisasi kerugian sebelumnya.
Lalu, apakah pindah ke pasar saham AS menjadi pilihan alternatif terbaik? jawabannya juga belum tentu. Alasannya, kebijakan tarif perdagangan oleh Donald Trump ini tidak selamanya positif bagi ekonomi AS. Soalnya, kebijakan ini juga akan menekan beberapa perusahaan-perusahaan AS yang memiliki pabrik dan supplier dari negara lain. Jika pabrik mereka di negara lain terkena tarif tersebut, kinerjanya juga bisa melambat.
Sementara itu, memindahkan pabrik dari negara lain ke AS juga bukan perkara mudah serta butuh waktu. Sehingga efeknya tidak sepenuhnya positif terhadap ekonomi AS.Apalagi, jika AS terkena tarif tambahan yang bisa membuat tingkat inflasi menjadi lebih tinggi.
Jadi, pilihan terbaik mengatur portofolio sesuai plan, jangka pendek dan menengah bisa dijadikan cash, sedangkan jangka panjang bisa tetap hold. Cash dari jangka menengah dan pendek itu bisa diatur untuk masuk di waktu terbaik dengan penempatan di reksa dana pasar uang dan aset likuid lainnya (kami tidak menyarankan beli harga emas di level tinggi saat ini).
Kamu bisa mulai konsultasikan pilihan saham dari analisismu sendiri atau dibandingkan dengan pilihan kami dengan join Mikirdividen sekarang
Jika kamu ingin tahu atau mau langsung gabung ke Mikirdividen, kamu bisa klik di sini .
Untuk mengetahui tentang saham pertama, kamu bisa klik di sini.
Jika ingin langsung transaksi bisa klik di sini
Langganan Sekarang dan dapatkan Fix Rate perpanjangan seperti harga pembelian pertama selama dua tahun ke depan.
Beberapa benefit baru:
- IPO Digest Premium
- Saham Value dan Growth Bulanan yang Menarik
- Update porto Founder Mikirduit per 3 bulan
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini